Tim gabungan saat melakukan pemadaman dan pendinginan lahan yang terbakar di Desa Rantau Rasau Desa, Kecamatan Berbak
MUARASABAK – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Namun, kabar baik itu belum mampu menghentikan sepenuhnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah titik.
Api masih bertahan di kawasan yang belum tersentuh hujan. Kondisi ini membuat tim gabungan harus terus berjibaku melakukan pemadaman, patroli dan pendinginan untuk mencegah api kembali membesar.
Kepala Pelaksana BPBD Tanjabtim, Amri Juhardy, mengatakan hujan memang mulai turun di beberapa kecamatan dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun, berdasarkan informasi BMKG, hujan belum merata di wilayah yang saat ini menjadi lokasi penanganan karhutla.
BACA JUGA:Karhutla Londerang Belum Padam, Satgas Jambi Sebar Tiga Tim di Titik Rawan
“Memang ada beberapa kecamatan yang terjadi hujan intensitas ringan sampai sedang. Namun, di wilayah yang terjadi kebakaran hutan dan lahan belum terjadi hujan,” kata Amri.
Data BPBD Tanjabtim menunjukkan, total luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 635 hektare. Karhutla tersebut tersebar di 11 kecamatan.
Muara Sabak Barat menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai sekitar 234 hektare. Disusul Kecamatan Berbak sekitar 233,9 hektare dan Kecamatan Sadu dengan luas sekitar 80,75 hektare.
Sejumlah lokasi kini menjadi fokus penanganan tim gabungan. Di antaranya kawasan Labuhan Beringin di Kecamatan Sadu, Sungai Palas Kecamatan Rantau Rasau, kawasan Berbak serta HLG Londrang yang mencakup Parit Ulum I dan Blok Dawan di Kecamatan Muara Sabak Barat.
Gambut Jadi Musuh Utama
Penanganan karhutla di Tanjabtim tidak semudah memadamkan api di permukaan. Kondisi sebagian besar wilayah yang merupakan lahan gambut membuat api berpotensi bertahan dan merambat di bawah tanah.
Amri menyebut sekitar 60 persen wilayah Tanjabtim merupakan kawasan gambut. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.
“Kadang kita melihat titik api hilang hari ini, sejam kemudian titik api muncul. Itu karena titik apinya berada di bawah tanah dan merambat di bawah tanah,” jelasnya.
Karena itu, petugas tidak hanya melakukan penyiraman pada titik api yang terlihat. Proses pendinginan juga terus dilakukan untuk memastikan bara yang berada di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran.
BPBD bersama tim gabungan juga memperkuat patroli di kawasan rawan. Personel dan peralatan dikerahkan ke sejumlah lokasi untuk mengantisipasi munculnya titik api baru sekaligus mencegah kebakaran meluas.
Krisis Air Jadi Kendala
Selain karakteristik gambut, keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan serius di lapangan. Mobil tangki disiapkan untuk memasok air, sementara embung dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif bagi tim pemadam.
Pemkab Tanjabtim juga berkoordinasi dengan Dinas PUPR serta Perkim untuk menyiapkan sekat kanal. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk menahan air agar tetap tersedia di kawasan gambut, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau sumber air.
BACA JUGA:Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara Sungaipenuh, Sekolah Diminta Siapkan Pembelajaran Daring
Sementara dari udara, operasi water bombing masih dilakukan Satgas Udara Provinsi Jambi. Upaya ini difokuskan pada wilayah yang sulit dijangkau petugas darat dan mengalami keterbatasan sumber air.
“Alhamdulillah, water bombing tetap dilakukan oleh Satgas Udara Provinsi untuk mengurangi penyebaran api lebih luas di wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan air untuk melakukan pemadaman,” pungkas Amri. (*)