Ilustrasi foto

Harga Kelapa Tanjabtim Kembali Anjlok, Petani Mulai Tahan Panen

Posted on 2026-10-05 08:17:28 dibaca 98 kali

MUARASABAK – Harapan petani kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) untuk menikmati harga tinggi kembali pupus. Setelah sempat menembus Rp3.000 per kilogram, harga komoditas andalan masyarakat pesisir itu kini merosot hingga kisaran Rp1.500 per kilogram.

Penurunan harga tersebut terjadi hanya dalam hitungan pekan setelah petani sempat merasakan perbaikan pendapatan dari hasil kebun mereka.

Saat berada di level tertinggi, harga kelapa dalam di tingkat petani sempat mencapai Rp2.500 per kilogram. Bahkan, di sejumlah wilayah, harga komoditas tersebut bergerak pada kisaran Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram.

BACA JUGA:Harga Kelapa Anjlok, Petani Tanjabtim Terancam Tinggalkan Kebun

Namun, tren positif itu kini berbalik. Harga yang diterima petani kembali turun dan berada di kisaran Rp1.500 hingga Rp1.800 per kilogram.

Kondisinya pun tidak sama di setiap kecamatan. Di wilayah Sabak Timur dan Kuala Jambi, harga kelapa bahkan sudah berada di bawah Rp2.000 per kilogram. Sementara petani di kawasan Nipah dan Sadu masih sedikit lebih beruntung karena harga komoditasnya bertahan di atas Rp2.000 per kilogram.

Permintaan Melemah, Petani Pilih Tahan Panen

Anjloknya harga mulai membuat petani mengambil keputusan untuk mengurangi aktivitas panen. Sebagian memilih menunda memetik kelapa karena harga yang ditawarkan pengepul dinilai belum sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

Di tingkat perdagangan, pelemahan harga disebut tidak terlepas dari merosotnya permintaan. Pasar luar daerah hingga ekspor yang sebelumnya menjadi salah satu penopang penyerapan kelapa kini mengalami pelemahan.

Riko, salah seorang pengepul kelapa dalam, mengatakan permintaan untuk pengiriman keluar daerah dan pasar ekspor saat ini praktis tidak ada.

"Permintaan kelapa untuk keluar daerah atau ekspor menghilang. Jadi mau tidak mau, secara otomatis harga pembelian kelapa di tingkat petani ikut menurun," kata Riko.

Menurutnya, persoalan tersebut semakin berat karena kondisi cuaca turut mengganggu aktivitas pengiriman. Hambatan distribusi berdampak terhadap kelancaran ekspor dan pada akhirnya membuat permintaan kelapa ikut menurun.

"Selain itu, faktor cuaca juga mengakibatkan ekspor kelapa sedikit mengalami kendala, sehingga permintaan ekspor juga tidak ada," ujarnya.

Bukan hanya kelapa segar yang terdampak. Pelemahan pasar juga merembet ke komoditas turunannya. Harga kopra kering ikut mengalami penurunan seiring melemahnya pasar kelapa.

Petani Harap Harga Kembali Naik

Bagi petani, turunnya harga menjadi pukulan tersendiri. Pasalnya, kenaikan harga yang sempat memberi angin segar bagi pendapatan mereka ternyata tidak berlangsung lama.

Inam, petani kelapa di wilayah Sabak Timur, mengaku kondisi tersebut cukup mengecewakan. Ia bahkan baru menyelesaikan panen sebagian kebunnya ketika harga kembali turun.

BACA JUGA:Harga Pinang di Tanjabtim Anjlok, Petani Terjepit Pembayaran Toke Tersendat

"Ya, sangat berharap (harga kembali naik, red). Baru satu lembar kebun kita panen, satu lagi belum, tapi sudah turun harga," kata Inam.

Petani berharap pasar kembali bergairah, terutama permintaan dari luar daerah dan pasar ekspor. Jika penyerapan kembali meningkat, mereka berharap harga di tingkat petani ikut terdongkrak sehingga hasil kebun kelapa kembali mampu memberikan penghasilan yang layak.

Bagi masyarakat Tanjabtim yang menggantungkan penghidupan dari komoditas kelapa, stabilitas harga menjadi faktor penting. Sebab, perubahan harga yang terlalu cepat tidak hanya memengaruhi keputusan panen, tetapi juga langsung berdampak terhadap pendapatan rumah tangga petani. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx