Ilustrasi - Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Asap Karhutla Ancam Pernapasan Anak, IDAI Bagikan Langkah Pencegahannya

Posted on 2026-09-27 08:06:07 dibaca 113 kali

JAKARTA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Paparan asap juga membawa risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak yang sistem pernapasan dan kekebalan tubuhnya masih dalam tahap perkembangan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla. Salah satu ancaman utama berasal dari partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), mengatakan anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap dampak polusi asap.

BACA JUGA:Kabut Asap Karhutla Mulai Berdampak di Kerinci-Sungai Penuh, Kasus ISPA Capai 1.159

"Partikel ini dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, serta sistem pernapasan dan imunnya yang masih berkembang," ujar Piprim dalam keterangan resmi IDAI yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, asap hasil pembakaran lahan mengandung berbagai polutan, antara lain partikel PM2.5 dan PM10 serta gas karbon monoksida (CO). Ukuran partikel yang sangat kecil membuat polutan tersebut mampu mencapai bagian bawah saluran pernapasan.

Karena itu, IDAI meminta orang tua tidak menganggap remeh gejala gangguan pernapasan yang muncul saat kabut asap.

Anak yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan hingga mengalami penurunan kesadaran harus segera mendapatkan pertolongan medis.

"Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci," tegas Piprim.

Anak Balita Paling Rentan

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K), mengatakan dampak paparan asap karhutla terhadap anak perlu mendapat perhatian serius.

Ia menyebut partikel PM2.5 dari asap kebakaran hutan memiliki karakteristik yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kelompok yang paling rentan, menurut Wahyuni, terutama anak berusia di bawah lima tahun.

Berdasarkan meta-analisis yang dikutip IDAI, setiap peningkatan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan sekitar 7 persen kunjungan instalasi gawat darurat terkait asma.

Paparan asap juga tidak hanya berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi tersebut dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah dimiliki anak, termasuk asma, bronkiektasis dan penyakit paru kronis lainnya.

Anak dengan penyakit jantung bawaan maupun riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

"Anak dengan penyakit jantung bawaan, atau dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan akibat paparan asap. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," kata Wahyuni.

Orang Tua Diminta Pantau Kualitas Udara

Untuk mengurangi risiko paparan, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan orang tua memantau kualitas udara secara berkala selama musim karhutla.

Pemantauan dapat dilakukan melalui indeks kualitas udara atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Jarak titik kebakaran juga tidak bisa menjadi satu-satunya patokan karena asap dapat terbawa angin hingga jauh dari lokasi sumber kebakaran.

Di rumah, orang tua disarankan menyediakan ruangan yang relatif terlindung dari udara luar sebagai clean room. Ruangan tersebut sebaiknya memiliki sedikit bukaan dan dapat dilengkapi alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon.

Ketika kabut asap memburuk, pintu dan jendela sebaiknya ditutup. Jika menggunakan pendingin ruangan, pengaturan sirkulasi udara perlu diperhatikan agar tidak memasukkan udara luar yang tercemar ke dalam rumah.

Kualitas udara dalam ruangan juga perlu dijaga. Orang tua dianjurkan menghindari aktivitas yang menghasilkan asap maupun partikel tambahan, seperti merokok, menggunakan kompor berbahan bakar kayu, membakar sesuatu, menyalakan lilin, menggunakan semprotan aerosol hingga aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap.

Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi ketika udara terlihat atau tercium berasap maupun ketika indikator kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.

Jika anak harus berada di luar rumah, IDAI merekomendasikan penggunaan masker pada anak usia dua tahun ke atas serta perlindungan mata untuk mengurangi paparan langsung terhadap asap.

Bagi anak yang memiliki asma, alergi atau penyakit kronis lainnya, orang tua diminta memastikan obat rutin selalu tersedia, termasuk obat pereda cepat sesuai resep dokter.

BACA JUGA:Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara Sungaipenuh, Sekolah Diminta Siapkan Pembelajaran Daring

Wahyuni mengingatkan pertolongan medis perlu segera dicari apabila anak mengalami kesulitan bernapas, terlihat sangat mengantuk atau menolak makan dan minum.

"Kami dari UKK Respirologi IDAI mengajak semua pihak baik orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, untuk bersinergi dalam melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya asap karhutla," ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat tetap memantau perkembangan kualitas udara dan menerapkan langkah perlindungan selama kondisi udara terdampak asap karhutla. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx