Induk gajah beserta anaknya saat berada disalah satu perkebunan sawit warga.
JAMBI – Misteri kematian seekor anak gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) di kawasan konsesi PT Lestari Asri Jaya (LAJ), Kabupaten Tebo, belum terungkap sepenuhnya.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Sumatera masih melakukan penyelidikan dan menunggu sejumlah hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menentukan penyebab kematian satwa dilindungi tersebut.
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko mengatakan pihaknya masih berhati-hati dalam menyampaikan kesimpulan karena proses pemeriksaan belum selesai.
BACA JUGA:Kebakaran di Jalur Jelajah Gajah Tebo Disorot, DPRD Desak Satgas Gakkum Bongkar Penyebabnya
"Proses penyelidikan masih berjalan, kami tidak berani menyimpulkan terlebih dahulu karena itu melampaui kewenangan, dan pengujian laboratorium masih berlanjut," kata Himawan di Kota Jambi, Sabtu.
Anak gajah berjenis kelamin jantan tersebut ditemukan mati di dalam sebuah lubang di kawasan konsesi PT LAJ pada akhir Agustus lalu. Satwa yang usianya diperkirakan belum mencapai dua tahun itu pertama kali diketahui oleh petugas BKSDA.
Untuk mengungkap penyebab kematian, sejumlah sampel kemudian dikirim ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan. Salah satu pemeriksaan dilakukan di Institut Pertanian Bogor (IPB), khususnya untuk mendeteksi kemungkinan infeksi elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV).
Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan sampel negatif terhadap virus yang dikenal dapat menyerang anak gajah.
Temuan berbeda muncul dari pemeriksaan histopatologi awal yang dilakukan Balai Besar Veteriner Bogor. Dalam pemeriksaan tersebut ditemukan adanya zat asing yang tidak terdapat pada sumber makanan alami gajah.
Meski temuan itu menjadi bagian dari proses penyelidikan, BKSDA Jambi belum mengungkap jenis maupun kandungan zat yang dimaksud.
Himawan mengatakan informasi tersebut untuk sementara masih dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan dan agar proses penanganan barang bukti tidak terganggu.
BKSDA Jambi kini masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari Balai Veteriner Bukittinggi. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan dibandingkan dengan hasil laboratorium yang telah diperoleh dari Bogor.
BACA JUGA:Karhutla Terjadi Dekat di Jalur Gajah Tebo, BKSDA Pastikan Satwa Liar Tetap Aman
Menurut Himawan, seluruh hasil pemeriksaan diperlukan sebelum pihaknya dapat menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab kematian anak gajah tersebut.
"Kami belum bisa menyebutkan jenis zatnya demi kepentingan penyelidikan agar tidak menghilangkan barang bukti," tegasnya.
Dengan masih berlangsungnya pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan lapangan, BKSDA Jambi belum menetapkan penyebab pasti kematian anak gajah tersebut. (*)