DBD di Batang Hari Capai 35 Kasus hingga Juli 2026, Kasus Tertinggi Terjadi pada Juli
BATANG HARI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang Hari mencatat 35 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama periode Januari hingga Juli 20
Read more
BATANG HARI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang Hari mencatat 35 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama periode Januari hingga Juli 2026. Kasus terbanyak terjadi pada Juli dengan 13 penderita.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batang Hari, Zuhrotua Sa’adah, mengatakan kasus DBD ditemukan hampir di seluruh kecamatan di wilayah tersebut.
“Januari ada tiga, Februari dua, Maret kosong, April empat, Mei sembilan, Juni empat, dan Juli 13 kasus. Totalnya 35,” ujar Zuhrotua.
BACA JUGA:Kasus DBD di Sungai Penuh Melonjak, 88 Warga Terjangkit hingga Pertengahan Juli
Berdasarkan catatan Dinkes Batang Hari, jumlah kasus mulai menunjukkan peningkatan sejak April. Pada April tercatat empat kasus, kemudian meningkat menjadi sembilan kasus pada Mei. Setelah turun menjadi empat kasus pada Juni, angka tersebut kembali naik cukup signifikan pada Juli.
Meski terjadi peningkatan pada Juli, Zuhrotua menyebut kondisi DBD di Batang Hari masih dalam kategori terkendali. Bahkan, jumlah kasus sepanjang periode tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Ia juga memastikan seluruh pasien yang sempat mendapatkan perawatan telah dinyatakan sembuh. Rata-rata pasien menjalani perawatan selama sekitar satu pekan.
Dari total 35 kasus, sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia produktif, yakni berusia di atas 20 tahun. Namun, Dinkes juga menemukan kasus pada kelompok anak, termasuk pasien berusia enam dan 13 tahun.
Untuk menekan risiko penularan, Dinkes Batang Hari terus berkoordinasi dengan puskesmas di setiap wilayah. Petugas puskesmas diarahkan untuk melakukan pemantauan langsung di lapangan serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dalam meningkatkan kebersihan lingkungan.
“Kita imbau melalui puskesmas untuk melakukan gotong royong, membersihkan rumah dan lingkungan. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan lotion antinyamuk dan kelambu,” katanya.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat diminta menerapkan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus. Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
BACA JUGA:Cegah Penyebaran Penyakit Hewan, Karantina Jambi Perketat Pengawasan Ayam Bangkok dari Luar Daerah
Zuhrotua menegaskan pencegahan perlu dilakukan secara bersama-sama, terutama dengan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga kasus DBD di Kabupaten Batang Hari tetap terkendali sekaligus mencegah terjadinya peningkatan kasus, terutama di tengah perubahan kondisi cuaca. (*)
BATANG HARI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang Hari mencatat 35 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) selama periode Januari hingga Juli 20
Read moreJAMBI–Kebutuhan penerangan lingkungan di RT 32 Perumahan Grand Kenali, Kelurahan Mayang Mangurai, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, mendapat pe
Read moreJAMBI — Jalanan Kota Jambi berubah menjadi panggung budaya dan kreativitas masyarakat saat ribuan peserta turun dalam Pawai Pembangunan memperin
Read moreJAMBI– Nama Jambi berkibar di tengah khidmatnya Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jaka
Read moreJAMBI - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membawa kabar baik bagi warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak. Sebanyak 390 n
Read moreKERINCI-Pemandangan indah Danau Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, Jambi, ternyata masih dibayangi persoalan sampah. Dalam aksi bersih-bersih yang dig
Read more