Pesawat waterbombing melakukan upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Berbak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Api Kembali Muncul di TN Berbak, Pemadaman Terkendala Air: Helikopter Waterbombing Dikerahkan

Posted on 2026-09-20 07:48:16 dibaca 110 kali

JAMBI – Upaya menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kawasan Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang kembali menghadapi kendala serius. Bukan hanya luasnya lahan terbakar, petugas juga kesulitan mendapatkan sumber air untuk pemadaman darat.

Kondisi itu membuat operasi pemadaman kembali mengandalkan helikopter waterbombing. Langkah tersebut dilakukan setelah titik api baru terpantau muncul pada Sabtu (19/9) siang di sekitar kawasan TN Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang, Yunaidi, mengatakan petugas gabungan masih berjibaku mengendalikan api. Namun, keterbatasan sumber air di lokasi menjadi salah satu hambatan utama.

BACA JUGA:Pemkab Muaro Jambi Perketat Pengendalian Karhutla, Lahan Bekas Terbakar Dilarang Ditanami Selama Dua Tahun

"Saat ini petugas sedang berupaya memadamkan, tapi kesulitan air," kata Yunaidi di Jambi, Sabtu.

Berdasarkan pemantauan lapangan, kobaran api kembali membesar di sekitar Parit Sembilan dan Parit 10, Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak.

Helikopter waterbombing dari satuan tugas udara pun dikerahkan untuk menjatuhkan air ke titik-titik yang sulit dijangkau petugas di darat.

Titik Api Baru Muncul

Yunaidi mengatakan operasi tidak hanya mengandalkan kekuatan udara. Satgas darat yang terdiri dari berbagai unsur juga terus bergerak mencari sumber air terdekat dengan lokasi kebakaran untuk melakukan pemadaman langsung.

Sementara itu, penyebab kebakaran hingga kini belum dapat dipastikan.

Kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau disebut membuat kawasan tersebut lebih mudah terbakar. Material berupa semak dan tanaman kering menjadi bahan bakar yang memungkinkan api cepat menjalar.

Meski muncul titik api baru, Yunaidi memastikan kebakaran yang sebelumnya terjadi di kawasan inti TN Berbak pada awal pekan telah berhasil dikendalikan.

"Kebakaran di kawasan inti yang terjadi awal pekan lalu sudah berhasil dipadamkan. Saat ini kami fokus melakukan pemadaman di titik baru Kecamatan Berbak," jelasnya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan api berasal dari aktivitas manusia di luar kawasan konservasi kemudian merembet masuk ke dalam kawasan.

"Api belum bisa dipastikan berasal dari mana, karena bahan bakarnya sudah sangat kering. Bisa jadi orang membuang puntung rokok, yang awalnya dari luar kawasan kemudian masuk ke kawasan," ujarnya.

Warsi Ingatkan Dampak ke Warga

Di tengah upaya pemadaman, dampak karhutla tidak hanya menyangkut kawasan hutan. Asap yang ditimbulkan juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, mengatakan karhutla dapat memberikan dampak berlapis terhadap kehidupan masyarakat.

Penurunan kualitas udara akibat asap, menurutnya, dapat mengganggu kegiatan pendidikan, kesehatan, transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak juga harus menjadi bagian dari penanganan.

"Masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran perlu mendapatkan dukungan yang memadai, terutama informasi mengenai kualitas udara, akses layanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan serta informasi yang jelas ketika kondisi mengharuskan mereka mengurangi aktivitas di luar rumah," kata Rudi.

BACA JUGA:Kabut Asap Karhutla Mulai Berdampak di Kerinci-Sungai Penuh, Kasus ISPA Capai 1.159

Ia menilai munculnya kebakaran di sejumlah fungsi kawasan menunjukkan persoalan karhutla tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.

Upaya pemadaman, pencegahan, pemantauan titik api hingga perlindungan masyarakat membutuhkan koordinasi lintas instansi dan keterlibatan berbagai pihak.

Sebab, ketika api kembali muncul sementara petugas menghadapi keterbatasan sumber air, ancaman karhutla bukan hanya menjadi persoalan kawasan konservasi, tetapi juga berpotensi meluas menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx