Warga mengantri untuk mendapatkan BBM Subsidi
MUAROJAMBI-Kelangkaan biosolar di Muaro Jambi bukan sekadar persoalan antrean panjang di SPBU.
Di balik deretan truk yang mengular hingga memakan badan Jalan Lintas Timur Sumatera, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ini murni akibat keterbatasan kuota, atau ada persoalan serius dalam pengawasan distribusi BBM subsidi?
Fenomena antrean yang terjadi hampir setiap hari mengindikasikan adanya ketidakseimbangan kronis antara pasokan dan kebutuhan.
BACA JUGA:Kejari Muaro Jambi Musnahkan Barang Bukti Narkoba dan BBM Ilegal, Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum
Namun, kondisi ini juga membuka celah dugaan lain—mulai dari potensi penyalahgunaan solar subsidi oleh kendaraan industri hingga lemahnya kontrol distribusi di lapangan.
Jika benar kuota harian hanya mampu bertahan 8–10 jam, mengapa pola distribusi tidak disesuaikan dengan karakter Muaro Jambi sebagai jalur logistik utama lintas provinsi?
Situasi ini tidak hanya berdampak pada kemacetan dan risiko kecelakaan, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok barang di Sumatera.
Lebih jauh, negara berisiko terus menanggung beban subsidi tanpa jaminan tepat sasaran.
BACA JUGA:Harga Pertamax dan Pertamina Dex Dikabarkan Turun, Begini Proyeksinya
Tanpa pengawasan ketat dan transparansi distribusi, kelangkaan biosolar berpotensi menjadi masalah yang terus berulang—dan publik hanya akan kembali dihadapkan pada antrean panjang tanpa solusi nyata. (*)