Ilustrasi foto Hari Anak Nasional

Hari Anak Nasional 2026: Menyiapkan Generasi Emas di Tengah Revolusi Artificial Intelligence

Posted on 2026-07-23 10:47:29 dibaca 214 kali

Oleh: Dr. Kasiono, M.Pd.

"Anak-anak tidak mewarisi masa depan dari kita. Mereka akan hidup di masa depan yang kita bangun melalui keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini." Pada tahun 2045, tepat satu abad Indonesia merdeka, anak-anak yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dasar akan memasuki usia produktif.

Mereka akan menjadi guru, dokter, petani modern, pengusaha, insinyur, hakim, peneliti, anggota legislatif, hingga pemimpin bangsa. Mereka pula yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia di tengah perubahan dunia yang semakin cepat. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: apakah hari ini kita benar-benar sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa depan yang akan sangat dipengaruhi oleh Artificial Intelligence (AI)?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dengan tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan." Tema ini mengandung pesan yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Anak-anak membutuhkan kasih sayang agar tumbuh dengan rasa aman, perlindungan agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi, serta pendidikan yang bermutu agar mampu membangun masa depan mereka sendiri sekaligus masa depan bangsa.

Hari Anak Nasional tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, peringatan ini merupakan momentum untuk mengevaluasi sejauh mana negara, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dunia usaha, media, dan masyarakat telah memenuhi hakhak anak sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta memperoleh perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Amanat konstitusi tersebut diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak beserta perubahannya, serta berbagai kebijakan yang terus disempurnakan untuk menjawab tantangan zaman. Momentum Hari Anak Nasional tahun ini memiliki makna yang lebih strategis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dunia sedang memasuki babak baru yang ditandai oleh perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, otomatisasi pekerjaan, dan perubahan pola kehidupan masyarakat.

Dalam waktu yang relatif singkat, AI telah hadir dalam berbagai aspek kehidupan: membantu proses belajar, mendukung pelayanan kesehatan, meningkatkan efisiensi dunia usaha, hingga mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Bagi dunia pendidikan, perkembangan tersebut menghadirkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk memperluas akses belajar, menyediakan sumber pengetahuan yang hampir tidak terbatas, serta membantu guru dan peserta didik menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan personal. Di sisi lain, AI juga menghadirkan tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi, penyebaran informasi yang tidak selalu benar, meningkatnya risiko penyalahgunaan data pribadi, serta semakin kompleksnya persoalan etika di ruang digital.

Di tengah perubahan itu, satu hal tetap tidak berubah: anak adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Pembangunan infrastruktur dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi pembangunan manusia akan menentukan keberlanjutan peradaban. Jalan tol dapat menghubungkan antardaerah, tetapi pendidikan yang berkualitas akan menghubungkan sebuah bangsa dengan masa depannya.

Oleh karena itu, pembicaraan mengenai Hari Anak Nasional tidak dapat dilepaskan dari agenda besar Indonesia Emas 2045. Pemerintah telah menetapkan visi menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada usia satu abad kemerdekaan. Visi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sehat, berpendidikan, berkarakter, adaptif terhadap perubahan, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan kata lain, keberhasilan Indonesia Emas tidak ditentukan ketika tahun 2045 tiba. Keberhasilan itu sedang dipersiapkan hari ini—di ruang-ruang kelas, di lingkungan keluarga, di taman bermain, dan di setiap kebijakan yang berpihak kepada kepentingan terbaik anak. Ironisnya, di tengah berbagai kemajuan tersebut, anak-anak Indonesia masih menghadapi beragam tantangan. Kekerasan terhadap anak masih terjadi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Perundungan, termasuk perundungan siber, terus menjadi perhatian. Di ruang digital, anak-anak berhadapan dengan paparan konten yang tidak sesuai usia, ancaman eksploitasi daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga kecanduan penggunaan gawai. Pada saat yang sama, kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan menyediakan sekolah atau menghadirkan teknologi. Anak-anak memerlukan lingkungan yang aman, keluarga yang hangat, guru yang menginspirasi, serta masyarakat yang menghargai hak-hak mereka sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Di sinilah makna tema Hari Anak Nasional 2026 menjadi sangat relevan. "Sayang Anak" mengingatkan bahwa kasih sayang merupakan fondasi pertama dalam pendidikan karakter.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh perhatian cenderung memiliki rasa percaya diri, empati, dan kemampuan membangun hubungan sosial yang lebih baik. Sebaliknya, "Lindungi" mengandung pesan bahwa perlindungan anak pada era digital tidak hanya berarti melindungi dari kekerasan fisik, tetapi juga dari ancaman yang berkembang di ruang siber.

Sementara itu, "Bangun Masa Depan" menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil hari ini harus berorientasi pada kualitas generasi mendatang. Sebagai seorang pendidik, saya meyakini bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggeser hakikat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia.

Artificial Intelligence mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat mengajarkan kejujuran. AI dapat menyusun kalimat yang indah, tetapi tidak memiliki empati. Teknologi dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan hati nurani. Karena itu, tantangan terbesar pendidikan Indonesia pada era AI bukanlah bagaimana membuat anak-anak mampu menggunakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan bahwa mereka tetap menjadi manusia yang berkarakter ketika menggunakan teknologi tersebut.

Artificial Intelligence boleh menjadi semakin cerdas, tetapi masa depan Indonesia tetap ditentukan oleh kecerdasan karakter anak-anaknya. Jika pendidikan dipahami sebagai investasi jangka panjang, maka keluarga merupakan fondasi pertama yang menentukan kualitas investasi tersebut. Tidak ada sekolah yang mampu sepenuhnya menggantikan peran keluarga dalam membentuk karakter anak.

Sebelum mengenal guru, anak terlebih dahulu mengenal orang tuanya. Sebelum belajar membaca buku, anak belajar membaca sikap dan perilaku orang-orang terdekatnya. Karena itu, pendidikan karakter sesungguhnya dimulai dari rumah. Dalam era digital, tantangan keluarga menjadi semakin kompleks. Kehadiran telepon pintar dan berbagai platform digital membawa manfaat besar, tetapi sekaligus menghadirkan risiko yang tidak kecil. Banyak anak tumbuh dengan kemampuan mengoperasikan perangkat digital jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan mereka memahami etika, tanggung jawab, dan keamanan dalam menggunakannya.

Tidak sedikit orang tua yang merasa telah menjalankan kewajibannya ketika mampu menyediakan gawai atau akses internet, padahal yang jauh lebih penting adalah mendampingi anak agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana. Perkembangan AI semakin mempertegas kenyataan tersebut. Saat ini, seorang anak dapat memperoleh jawaban atas hampir semua pertanyaan hanya dalam hitungan detik.

Namun, memperoleh jawaban bukan berarti memperoleh pemahaman. Pengetahuan yang mudah diakses tetap memerlukan kemampuan berpikir kritis untuk memilah informasi, membedakan fakta dan opini, serta menilai apakah suatu informasi dapat dipercaya. Di sinilah peran keluarga dan sekolah menjadi semakin penting. Guru pun menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Dahulu, guru dipandang sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, pengetahuan tersedia di berbagai platform digital.

Karena itu, peran guru mengalami transformasi. Guru tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi menjadi pembimbing, fasilitator, motivator, sekaligus teladan dalam membangun karakter dan budaya belajar peserta didik. Guru membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, berkreasi, dan menyelesaikan masalah—kompetensi yang justru semakin dibutuhkan pada era AI. Kurikulum juga perlu terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Pendidikan tidak cukup mengejar capaian akademik semata, tetapi harus menumbuhkan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Dunia kerja pada masa depan akan berubah sangat cepat.

Banyak jenis pekerjaan akan mengalami transformasi, sementara profesi-profesi baru akan terus bermunculan seiring perkembangan teknologi. Oleh karena itu, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi akan menjadi modal utama generasi muda Indonesia. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk AI, mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan analitis, kreativitas, kepemimpinan, ketahanan, rasa ingin tahu, dan pembelajaran berkelanjutan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kecanggihan teknologi justru semakin menegaskan pentingnya kualitas manusia. Mesin dapat menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin, tetapi tidak mudah menggantikan kemampuan manusia dalam berempati, mengambil keputusan etis, berkolaborasi, dan berinovasi. Dalam konteks itulah, literasi AI perlu mulai dikenalkan kepada anak-anak secara bertahap sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya. Literasi AI bukan berarti mengajarkan pemrograman yang rumit sejak dini, melainkan membangun pemahaman bahwa teknologi adalah alat yang harus digunakan secara bertanggung jawab.

Anak-anak perlu memahami pentingnya menjaga privasi digital, menghormati hak cipta, memverifikasi informasi, serta menggunakan AI sebagai sarana untuk belajar dan berkarya, bukan sebagai jalan pintas yang mematikan kreativitas dan kejujuran. Pada saat yang sama, perlindungan anak di ruang digital harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah telah memperkuat berbagai kebijakan untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak, termasuk melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025 tentang Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Dalam Jaringan Tahun 2025–2029.

Namun, regulasi yang baik hanya akan efektif apabila diikuti oleh partisipasi aktif keluarga, sekolah, penyedia platform digital, dunia usaha, media, dan masyarakat. Ruang digital yang aman bukan hanya ruang yang bebas dari konten berbahaya. Ruang digital yang aman adalah ruang yang memungkinkan anak belajar, berkreasi, berkomunikasi, dan mengembangkan potensinya tanpa rasa takut menjadi korban kekerasan, perundungan, eksploitasi, ataupun penyalahgunaan data pribadi. Mewujudkan ruang seperti itu memerlukan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. Bagi Provinsi Jambi, tantangan tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Di wilayah perkotaan, perhatian banyak tertuju pada literasi digital, penggunaan media sosial, serta perlindungan anak dari berbagai risiko di dunia maya.

Sementara itu, di sebagian wilayah pedesaan, kawasan perkebunan, dan komunitas adat, tantangan utamanya masih berkaitan dengan pemerataan akses pendidikan, kualitas layanan pembelajaran, dan pendampingan keluarga. Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan perlindungan dan pendidikan anak tidak dapat diseragamkan. Setiap daerah memerlukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, dan geografisnya. Sebagai daerah yang kaya akan keberagaman budaya dan sumber daya alam, Jambi memiliki modal sosial yang besar untuk membangun generasi muda yang berkarakter.

Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, serta kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu terus diwariskan kepada anak-anak. Nilai-nilai tersebut bukanlah penghambat modernisasi, melainkan fondasi moral yang akan membantu mereka menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Di sinilah pendidikan berbasis budaya lokal menemukan relevansinya. Kemajuan teknologi tidak seharusnya menghapus identitas budaya. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pelestarian budaya, memperluas akses pengetahuan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Anak-anak Indonesia harus tumbuh menjadi generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya. Karena itu, membangun generasi emas bukan hanya persoalan meningkatkan kecakapan digital. Lebih dari itu, pembangunan manusia harus berlangsung secara utuh, mencakup kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan integritas moral. Pendidikan yang hanya menghasilkan anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi miskin karakter, akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Sebaliknya, ketika kecerdasan dipadukan dengan kejujuran, kreativitas dengan kepedulian, serta penguasaan teknologi dengan tanggung jawab moral, Indonesia akan memiliki generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perubahan dunia, tetapi juga mampu memberi arah bagi perubahan tersebut.

Generasi Emas Indonesia tidak akan lahir secara otomatis hanya karena bonus demografi. Bonus demografi hanyalah peluang. Apabila tidak dipersiapkan dengan baik, peluang tersebut justru dapat berubah menjadi beban sosial. Sebaliknya, apabila anak-anak Indonesia tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang berkualitas, hidup dalam lingkungan yang aman, serta memiliki karakter yang kuat, bonus demografi akan menjadi kekuatan besar yang mengantarkan Indonesia menjadi bangsa maju pada tahun 2045. Untuk itu, peringatan Hari Anak Nasional perlu dijadikan momentum memperkuat komitmen bersama melalui sedikitnya tujuh agenda strategis.

Pertama, memperkuat ketahanan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Orang tua perlu meningkatkan literasi pengasuhan, literasi digital, dan kemampuan membangun komunikasi yang hangat dengan anak. Kehadiran orang tua tidak dapat digantikan oleh gawai, aplikasi, ataupun kecerdasan buatan.

Kedua, memperkuat kualitas pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan penyelesaian masalah. Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang menyenangkan sekaligus aman bagi setiap anak.

Ketiga, membangun literasi digital dan literasi Artificial Intelligence sejak dini sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tujuannya bukan sekadar agar anak mampu menggunakan teknologi, tetapi agar mereka memahami etika, tanggung jawab, keamanan digital, dan pentingnya menjaga integritas dalam memanfaatkan AI. Keempat, mempercepat terwujudnya ruang digital yang aman, sehat, dan ramah anak melalui sinergi pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, penyedia platform digital, media, dan masyarakat.

Perlindungan anak di ruang digital harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya tugas pemerintah. Kelima, memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Pemerataan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan teknologi harus menjangkau seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, kawasan perbatasan, wilayah kepulauan, maupun komunitas adat. Prinsip No Child Left Behind harus menjadi semangat dalam setiap kebijakan pembangunan. Keenam, meningkatkan kapasitas guru sebagai agen transformasi pendidikan.

Pada era AI, guru tidak kehilangan perannya. Sebaliknya, guru menjadi semakin penting karena hanya manusialah yang mampu menanamkan nilai, membangun karakter, mengembangkan empati, dan menginspirasi peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ketujuh, menjadikan Hari Anak Nasional sebagai gerakan sosial sepanjang tahun. Komitmen terhadap anak tidak boleh berhenti pada seremoni tanggal 23 Juli. Setiap keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, media massa, hingga komunitas lokal memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan ramah anak.

Bagi Provinsi Jambi, ketujuh agenda tersebut memiliki arti yang sangat penting. Pembangunan sumber daya manusia harus menjadi prioritas yang berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Anak-anak di perkotaan, pedesaan, kawasan perkebunan, daerah aliran sungai, hingga komunitas adat harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Pendidikan yang berkualitas, perlindungan anak yang efektif, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal merupakan fondasi penting bagi terwujudnya generasi Jambi yang unggul dan berdaya saing. Ketika peringatan Hari Anak Nasional usai, panggung akan dibongkar, spanduk akan diturunkan, dan berbagai kegiatan seremonial akan berakhir. Namun, tanggung jawab kita terhadap anak-anak Indonesia tidak pernah selesai.

Masa depan bangsa dibangun bukan dalam satu hari peringatan, melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari: orang tua yang meluangkan waktu mendengarkan cerita anaknya, guru yang menginspirasi peserta didiknya untuk berpikir kritis, masyarakat yang berani melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, serta pemerintah yang konsisten menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak. Artificial Intelligence akan terus berkembang dan mungkin akan melampaui kemampuan manusia dalam berbagai pekerjaan teknis. Akan tetapi, teknologi tidak memiliki hati nurani, kasih sayang, empati, maupun kebijaksanaan.

Nilai-nilai tersebut hanya dapat diwariskan melalui keluarga, pendidikan, budaya, dan keteladanan. Karena itu, ukuran kemajuan suatu bangsa pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimilikinya, melainkan oleh kualitas manusia yang mengendalikan teknologi tersebut. Artificial Intelligence boleh menjadi semakin cerdas, tetapi masa depan Indonesia tetap ditentukan oleh kecerdasan karakter anak-anaknya. Hari Anak Nasional 2026 mengingatkan kita bahwa membangun Indonesia Emas bukanlah pekerjaan yang dimulai pada tahun 2045.

Pekerjaan itu dimulai hari ini, ketika setiap anak memperoleh hak untuk hidup, tumbuh, belajar, bermain, berpartisipasi, dan bermimpi dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang. Sebab, anak yang kita lindungi hari ini adalah generasi yang akan menjaga Indonesia pada masa depan. (Dosen FKIP Universitas Batanghari Jambi)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx