Pihak sekolah menggelar acara tersebut untuk melestarikan permainan tradisional nusantara sekaligus pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anak, guna mendorong mereka beraktivitas gerak dan sosial untuk tumbuh kembang secara optimal.
JAKARTA– Gempuran teknologi digital tidak boleh membuat permainan tradisional hilang dari kehidupan anak-anak Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, permainan warisan leluhur harus terus dihidupkan karena menjadi bagian penting dalam membangun karakter sekaligus menjaga identitas budaya bangsa.
Menurut Fadli, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga media belajar yang mengajarkan kerja sama, kejujuran, gotong royong, hingga kemampuan bersosialisasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar digital.
BACA JUGA:Jangan Salah Tindakan! Cara Tepat Memberikan Bantuan Hidup Dasar pada Korban Henti Jantung
"Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk bermain, berinteraksi, dan belajar nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata," ujar Fadli saat menghadiri Festival Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari di Jakarta, Sabtu (25/7).
Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki ribuan permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah. Namun, seiring perubahan gaya hidup, banyak di antaranya mulai ditinggalkan generasi muda.
Untuk mencegah warisan budaya tersebut hilang, Kementerian Kebudayaan tengah memperkuat upaya pendokumentasian, registrasi, hingga memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengembangan Museum Permainan Tradisional Indonesia.
"Kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kebersamaan, kejujuran, dan semangat gotong royong," katanya.
Dalam festival tersebut, Kementerian Kebudayaan bersama Komunitas Hong menghadirkan beragam permainan tradisional yang dapat dimainkan anak usia 5–8 tahun, di antaranya congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublak-cublak suweng, hingga cing ciripit.
Senada dengan itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya melalui pengawasan penggunaan internet. Anak-anak juga harus diberi ruang untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi secara langsung agar tumbuh dengan pengalaman sosial yang sehat.
"Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal," ujarnya.
BACA JUGA:Aliran Sungai di Desa Catur Rahayu Tersumbat Rumput, Warga Desak Normalisasi Cegah Banjir
Festival Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari digelar menjelang peringatan Hari Anak Nasional 2026 sebagai hasil kolaborasi Betadine Indonesia bersama pemerintah, komunitas, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, media, dan keluarga.
Selain menghadirkan permainan tradisional, kegiatan ini juga diisi diskusi publik, olahraga keluarga, permainan edukatif, serta peluncuran Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga yang mendorong anak lebih aktif beraktivitas di luar paparan layar digital sekaligus mendukung implementasi PP Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). (*)