Ilustrasi - Orang tua memberikan perhatian pada anak perempuannya

Anak Korban Kekerasan Bukan Tak Mau Bicara, Mereka Butuh Rasa Aman untuk Berani Melapor

Posted on 2026-07-26 07:39:03 dibaca 48 kali

JAKARTA– Banyak anak korban kekerasan memilih diam bukan karena tidak ingin ditolong, melainkan karena merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk bercerita. Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa dukungan emosional dari orang dewasa menjadi kunci agar anak berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya.

Menurut Ocha, dalam psikologi perkembangan dikenal konsep secure attachment, yakni hubungan yang hangat, responsif, dan penuh rasa aman antara anak dengan orang tua, pengasuh, maupun orang dewasa di sekitarnya.

BACA JUGA:Jangan Biarkan Permainan Tradisional Kalah oleh Gawai, Karakter Anak Dipertaruhkan

"Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (25/7).

Ia menjelaskan, ketika mengalami kekerasan atau perundungan, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan anak adalah mencari orang dewasa yang dipercaya. Sosok tersebut dapat berupa orang tua, guru, anggota keluarga, psikolog, atau siapa pun yang mampu memberikan rasa aman saat anak menyampaikan apa yang dialaminya.

Setelah memperoleh perlindungan dan dukungan, kasus kemudian dapat diteruskan kepada pihak yang berwenang, seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), kepolisian, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), maupun lembaga perlindungan anak lainnya sesuai kebutuhan.

Ocha menilai masih banyak anggapan keliru di masyarakat yang mengira anak sengaja menyembunyikan pengalaman kekerasan karena tidak mau ditolong. Padahal, kondisi psikologis anak jauh lebih kompleks.

Kemampuan anak untuk memahami, mengingat, dan menceritakan pengalaman traumatis masih berkembang. Akibatnya, banyak anak tidak mampu menyusun cerita secara utuh dan hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, mudah marah, menarik diri, atau menghindari orang tertentu.

"Perubahan perilaku sering kali menjadi sinyal pertama bahwa anak sedang mengalami sesuatu yang serius, meski mereka belum mampu menjelaskan penyebabnya," kata Ocha.

Ia juga menjelaskan bahwa saat menghadapi ancaman atau kekerasan, otak anak secara otomatis mengaktifkan mekanisme bertahan hidup (survival response). Dalam kondisi tersebut, anak bisa melawan, melarikan diri, membeku, bahkan tampak datar dan tidak bereaksi.

Menurutnya, respons itu bukan berarti anak tidak merasakan ketakutan atau penderitaan. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan cara otak melindungi diri dari tekanan yang sangat berat.

Selain faktor psikologis, lingkungan yang tidak mendukung juga menjadi alasan utama anak memilih bungkam. Banyak korban takut mendapat ancaman dari pelaku, tidak dipercaya, disalahkan, atau pernah mengalami pengalaman buruk ketika mencoba bercerita.

Situasi menjadi semakin rumit apabila pelaku merupakan orang terdekat, seperti anggota keluarga, guru, atau sosok yang selama ini dipercaya. Dalam kondisi seperti itu, anak kerap mengalami konflik batin antara rasa takut dan keinginan mempertahankan hubungan dengan pelaku.

BACA JUGA:Jangan Salah Tindakan! Cara Tepat Memberikan Bantuan Hidup Dasar pada Korban Henti Jantung

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau 65,59 persen di antaranya menimpa anak. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Sejalan dengan itu, peringatan Hari Anak Nasional 2026 mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", sebagai ajakan untuk memperkuat perlindungan anak, memenuhi hak-haknya, serta menciptakan lingkungan yang aman agar setiap anak berani bersuara ketika menjadi korban kekerasan. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx