Sungai Batanghari yang mengalami penyusutan debit air terlihat dari Penyengat Rendah

DPRD Desak Penanganan Menyeluruh, Penyusutan Sungai Batanghari Dinilai Sudah Masuk Fase Kritis

Posted on 2026-07-26 19:59:43 dibaca 53 kali

JAMBI – Penyusutan debit Sungai Batanghari yang kembali terjadi pada musim kemarau 2026 dinilai bukan lagi persoalan musiman. DPRD Provinsi Jambi menegaskan kondisi tersebut telah berubah menjadi ancaman serius yang berdampak terhadap lingkungan, ekonomi masyarakat, hingga ketersediaan air bersih sehingga membutuhkan langkah penanganan jangka panjang.

Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, mengatakan fenomena surutnya sungai terpanjang di Pulau Sumatera itu terus berulang hampir setiap tahun. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya merespons ketika debit air mulai turun, tetapi harus membangun sistem mitigasi yang mampu mencegah dampak yang lebih besar.

BACA JUGA:Aliran Sungai di Desa Catur Rahayu Tersumbat Rumput, Warga Desak Normalisasi Cegah Banjir

"Fenomena ini sudah berulang dari tahun ke tahun. Artinya, persoalannya bukan lagi insidental, melainkan struktural. Yang dibutuhkan sekarang adalah kebijakan yang terintegrasi, bukan penanganan sementara ketika sungai sudah surut," kata Ivan, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, Sungai Batanghari memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Jambi. Selain menjadi sumber air baku, sungai tersebut menopang aktivitas perikanan, transportasi, pertanian, hingga menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika debit air menurun drastis, berbagai sektor langsung terdampak secara bersamaan.

Dampak itu mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Di Desa Sungai Duren dan Desa Sarang Burung, Kabupaten Muaro Jambi, rendahnya debit air menyebabkan kadar oksigen menurun sehingga memicu kematian ikan di keramba milik warga. Produksi budidaya ikan apung diperkirakan merosot hingga 30 persen.

Persoalan juga muncul di permukiman yang berada di sepanjang bantaran sungai. Sejumlah sumur warga mengalami penyusutan debit, bahkan sebagian air berubah keruh dan berbau sehingga tidak lagi layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, kemarau berkepanjangan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Menurunnya tinggi muka air tanah membuat lahan, terutama kawasan gambut, semakin mudah mengering dan rentan terbakar.

Ivan mengingatkan pengalaman musim kemarau 2025 menjadi bukti nyata bahwa ancaman tersebut tidak boleh dianggap sepele. Saat itu, tinggi muka air di Pos Tanggo Rajo turun lebih dari satu meter hanya dalam dua pekan. Hamparan pasir mencapai sekitar 10 hektare, sejumlah daerah mengalami kesulitan air bersih, bahkan di kawasan Penyengat Rendah masyarakat sempat dapat menyeberangi Sungai Batanghari dengan berjalan kaki.

Memasuki musim kemarau 2026, kondisi serupa mulai kembali terlihat. Hamparan pasir telah muncul di sejumlah titik dengan luas sekitar lima hektare. Mengingat prakiraan musim kemarau masih berlangsung hingga Oktober, penyusutan debit sungai diperkirakan masih akan terus terjadi apabila tidak diimbangi langkah antisipasi.

Ivan meminta Pemerintah Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten dan kota segera memperkuat upaya mitigasi. Langkah yang dinilai mendesak meliputi menjamin distribusi air bersih kepada masyarakat, meningkatkan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan, memberikan bantuan kepada pembudidaya ikan yang terdampak, serta memperkuat sistem pemantauan tinggi muka air sungai secara real time.

Menurutnya, penanganan jangka pendek harus dibarengi kebijakan strategis yang mampu memperkuat ketahanan sumber daya air. Di antaranya melalui rehabilitasi daerah aliran Sungai (DAS) Batanghari, konservasi kawasan hulu, pembangunan embung dan infrastruktur penampung air, serta penguatan sistem peringatan dini yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

"Kita tidak boleh terus-menerus sibuk ketika sungai sudah surut. Yang harus dibangun adalah sistem yang mampu menjaga Sungai Batanghari tetap sehat dan tangguh menghadapi perubahan iklim," tegasnya.

BACA JUGA:Aktivitas PETI di Sungai Batanghari Ancaman Serius bagi Populasi Ikan

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan penyusutan debit Sungai Batanghari ikut menurunkan tinggi muka air tanah. Kondisi tersebut membuat lahan semakin kering dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan bergambut.

Pantauan di lapangan menunjukkan penyusutan debit air terlihat di sejumlah wilayah, mulai dari Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi hingga Kabupaten Batanghari. Di kawasan Tanjung Pasir, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, hamparan pasir telah muncul dengan luas diperkirakan mencapai sekitar lima hektare sebagai dampak kemarau yang berlangsung dalam dua bulan terakhir. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx