Tim dari Jurusan Promosi Kesehetan Poltekkes Kemenkes Jambi saat melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Mudung Darat, Kabupaten Muaro Jambi
JAMBI - Upaya meningkatkan peran masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC) dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Transformasi Desa Tanggap Tuberkulosis Melalui Pemberdayaan Sosial ‘Kanti Cerito’ Berbasis Kearifan Lokal di Desa Mudung Darat, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.”
Kegiatan yang diinisiasi oleh Jurusan Promosi Kesehetan Poltekkes Kemenkes Jambi tersebut dilaksanakan sejak Januari hingga Agustus 2026 tersebut dipimpin oleh Dr. Abbasiah, SKM., M.Kep. sebagai ketua tim dan Ervon Veriza, S.K.M., M.K.M. sebagai anggota.
Program ini dilatarbelakangi masih adanya sejumlah persoalan dalam penanggulangan TBC di Desa Mudung Darat. Permasalahan tersebut meliputi rendahnya deteksi dini kasus, kepatuhan pengobatan yang belum optimal, keterbatasan pengetahuan masyarakat, stigma terhadap penderita TBC, serta belum optimalnya dukungan keluarga dan komunitas.
BACA JUGA:Lima Guru Besar Dikukuhkan, UIN STS Jambi Mantapkan Target 40 Profesor
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Abbasiah, SKM., M.Kep., mengatakan, pendekatan pemberdayaan masyarakat diperlukan agar upaya penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai TBC, tetapi ikut menjadi bagian dari upaya menemukan kasus, mencegah penularan, memberikan dukungan kepada pasien, serta mengurangi stigma. Karena itu, pendekatan Kanti Cerito kami kembangkan dengan memanfaatkan pola komunikasi dan kearifan lokal yang sudah dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Mudung Darat,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi bercerita, diskusi informal warga, sastra lisan, pantun, dan pola komunikasi komunitas dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan. Pendekatan tersebut diharapkan membuat informasi mengenai TBC lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat.
Berdasarkan hasil asesmen bersama kader dan tokoh masyarakat, kapasitas kader dalam memberikan edukasi yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat juga masih perlu diperkuat. Karena itu, program Kanti Cerito diarahkan tidak hanya pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga penguatan kapasitas kader dan masyarakat.
Program tersebut bertujuan mendukung terwujudnya Desa Tanggap TBC melalui strategi promosi kesehatan berbasis kearifan lokal. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan diarahkan untuk memperkuat dukungan sosial bagi pasien TBC, mengurangi stigma, meningkatkan deteksi dini, serta memperkuat kolaborasi masyarakat dengan pelayanan kesehatan primer.
Salah satu hasil kegiatan adalah terbentuknya Forum Warga Tanggap TBC yang terdiri dari kader dan tokoh masyarakat. Forum tersebut diharapkan dapat membantu petugas kesehatan dalam menemukan kasus TBC di lingkungan masyarakat.
Selain itu, dibentuk pula Pojok TBC sebagai wadah koordinasi Forum Warga Tanggap TBC. Pojok tersebut akan mendukung kegiatan penemuan kasus, pelaporan, pencatatan, serta edukasi masyarakat mengenai pencegahan TBC.
Dr. Abbasiah menambahkan bahwa keberlanjutan program menjadi bagian penting dari kegiatan pengabdian tersebut. “Harapan kami, Forum Warga Tanggap TBC dan Pojok TBC tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Keduanya dapat terus dimanfaatkan masyarakat dan menjadi penghubung antara warga, kader, tokoh masyarakat, dan petugas kesehatan dalam membangun Desa Tanggap TBC yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui model Kanti Cerito, masyarakat Desa Mudung Darat diharapkan semakin aktif dalam pencegahan dan penanggulangan TBC sekaligus membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan dan bebas dari stigma. (*)