Saat menyampaikan rilis resmi statistik bulan Juli 2026 yang berlangsung di Aula BPS Provinsi Jambi
JAMBI - Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Jambi mengalami perubahan pada Juli 2026. Nilai ekspor asal Provinsi Jambi tercatat mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, sementara nilai impor juga mengalami penurunan cukup signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, nilai ekspor asal Provinsi Jambi pada Juli 2026 mencapai US$181,87 juta, atau turun sebesar 4,67 persen dibandingkan Juni 2026 yang tercatat sebesar US$190,78 juta.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, saat menyampaikan rilis resmi statistik menjelaskan bahwa perkembangan ekspor tersebut menunjukkan adanya penurunan nilai perdagangan komoditas asal Jambi pada periode Juli 2026. “Perkembangan ekspor dan impor merupakan salah satu indikator penting dalam melihat aktivitas ekonomi daerah, khususnya terkait perdagangan internasional dan kontribusi sektor-sektor unggulan di Provinsi Jambi,” katanya.
BACA JUGA:Satgas Karhutla Batanghari Perkuat Kesiapan, Personel Diterjunkan ke Rambutan Asam
Pada Juli 2026, negara tujuan ekspor terbesar Provinsi Jambi didominasi oleh lima negara utama, yaitu Singapura, Malaysia, Jepang, India, dan Amerika Serikat. Negara-negara tersebut menjadi pasar utama bagi berbagai komoditas unggulan yang berasal dari Provinsi Jambi. Dilihat berdasarkan kelompok komoditas, hingga Juli 2026 kelompok industri masih memberikan kontribusi terbesar terhadap total ekspor Provinsi Jambi dengan persentase mencapai 50,74 persen.
Selanjutnya, kelompok pertambangan memberikan kontribusi sebesar 44,90 persen, sedangkan kelompok pertanian menyumbang sebesar 4,36 persen terhadap total ekspor.
Sementara itu, nilai impor Provinsi Jambi pada Juli 2026 juga mengalami penurunan yang cukup besar. Nilai impor tercatat sebesar US$4,65 juta, turun 48,45 persen dibandingkan bulan Juni 2026 yang mencapai US$9,02 juta.
Adapun lima negara dengan transaksi impor terbesar ke Provinsi Jambi pada Juli 2026 berasal dari Tiongkok, Malaysia, Kanada, Singapura, dan Perancis.
Berdasarkan kelompok komoditas impor, hingga Juli 2026 kelompok mesin dan alat angkutan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 66,87 persen dari total impor Provinsi Jambi. Kemudian diikuti kelompok komoditas hasil industri dan lainnya sebesar 26,00 persen, serta kelompok bahan kimia dan sejenisnya sebesar 6,58 persen.
BACA JUGA:Asap dan Keadilan yang Terusik : Membedah Korban Karhutla melalui Perspektif Sosiologi Hukum
Aidil Adha menambahkan, perkembangan perdagangan internasional perlu terus menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan aktivitas produksi, kebutuhan industri, serta daya saing komoditas daerah di pasar global. “Peningkatan kualitas produk, penguatan sektor industri, serta optimalisasi potensi unggulan daerah menjadi faktor penting agar perdagangan luar negeri Provinsi Jambi dapat terus berkembang,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, BPS Provinsi Jambi akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan ekspor dan impor sebagai bahan evaluasi dalam melihat dinamika ekonomi daerah serta arah pertumbuhan sektor perdagangan internasional di Provinsi Jambi. (*)