Petugas ketika melakukan pendinginan di area lahan yang terbakar akibat kemarau
MUARASABAK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) telah menghanguskan sekitar 245,635 hektare lahan sepanjang Januari hingga September 2026.
Luas tersebut tercatat dari 63 kejadian kebakaran yang tersebar di sejumlah kecamatan. Muara Sabak Barat menjadi wilayah dengan dampak terluas, mencapai 87,79 hektare.
Sadu berada di urutan berikutnya dengan 59,75 hektare, disusul Berbak 39 hektare. Sementara itu, luasan karhutla di kecamatan lainnya tercatat 21,425 hektare di Geragai, 8,8 hektare di Nipah Panjang, 8,02 hektare di Kuala Jambi, 7,25 hektare di Mendahara, 6,6 hektare di Mendahara Ulu, 6 hektare di Muara Sabak Timur dan 1 hektare di Rantau Rasau.
BACA JUGA:73 Desa dan Kelurahan di Muaro Jambi Masuk Peta Rawan Karhutla
Dendang menjadi satu-satunya kecamatan yang belum mencatat kejadian karhutla berdasarkan data tersebut.
Di tengah luasnya area yang terbakar, ancaman kebakaran belum sepenuhnya hilang. Pemantauan BPBD mencatat 252 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Tanjabtim hingga saat ini.
Namun, kondisi lapangan per 3 September 2026 menunjukkan situasi relatif terkendali. BPBD Tanjabtim memastikan tidak ada kebakaran hutan maupun lahan yang sedang terjadi pada tanggal tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Tanjabtim Amri Juhardy mengatakan personel tetap disiagakan meski tidak ditemukan kebakaran baru.
“Per tanggal 3 September ini tidak ada terjadi kebakaran lahan atau hutan di Kabupaten Tanjabtim,” kata Amri saat ditemui di kantornya, Kamis (3/9).
Tidak adanya titik api baru bukan berarti penanganan dihentikan. Tim gabungan masih melakukan pendinginan di sejumlah bekas lokasi kebakaran, terutama kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Pendinginan menjadi penting karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah gambut. Api yang terlihat padam di permukaan masih berpotensi menyala kembali apabila bagian bawah tanah belum benar-benar dingin.
“Pendinginan dilakukan agar api yang berada di dalam tanah gambut padam sepenuhnya dan asap yang masih ada segera hilang,” ujarnya.
Personel TNI, Polri, pemerintah desa, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan masyarakat masih dilibatkan dalam upaya penanganan serta pemantauan di lapangan.
BPBD juga memperkuat kesiapsiagaan dengan menempatkan mesin pemadam api jinjing dan peralatan portable di sejumlah kecamatan yang dianggap rawan.
Peralatan tersebut memungkinkan pemerintah kecamatan dan desa melakukan tindakan awal apabila menemukan titik api, tanpa harus menunggu tim gabungan tiba.
BACA JUGA:10 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Jambi, Luas Lahan Terbakar Capai 17,25 Hektare
“Kalau ada ditemukan api, pihak kecamatan atau desa bisa langsung turun melakukan penanganan awal menjelang petugas tiba di lokasi,” kata Amri.
Dengan luas kebakaran yang telah mencapai lebih dari 245 hektare, BPBD Tanjabtim menegaskan seluruh unsur penanganan karhutla masih dalam status siaga. Setiap kemunculan titik api baru akan segera ditindaklanjuti untuk mencegah kebakaran meluas. (*)