Beruang Masuk Permukiman, Warga Kerinci Dihantui Ancaman Tiap Malam
KERINCI – Kemunculan beruang hingga masuk ke permukiman warga di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci, bukan sekadar insiden satwa liar
Read more
KERINCI – Kemunculan beruang hingga masuk ke permukiman warga di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci, bukan sekadar insiden satwa liar yang tersesat. Fenomena ini dinilai sebagai sinyal kuat adanya tekanan serius terhadap habitat alami di kawasan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, beruang dilaporkan tak hanya berkeliaran di kebun, tetapi juga mendekati rumah warga, bahkan merusak bangunan untuk mencari makanan. Situasi ini memicu ketakutan yang meluas, terutama pada malam hari ketika aktivitas satwa meningkat.
Namun di balik ancaman itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa beruang kini semakin berani masuk ke wilayah manusia?
BACA JUGA:Puluhan Perusahaan ‘Nilai Merah’, Alarm Keras Pengelolaan Lingkungan di Jambi
Sejumlah indikasi mengarah pada semakin menyempitnya habitat hutan akibat pembukaan lahan, baik untuk perkebunan maupun aktivitas lainnya. Alih fungsi kawasan yang dulunya menjadi sumber pakan dan tempat berlindung satwa, diduga memaksa beruang keluar dari habitatnya dan mencari alternatif di permukiman warga.
“Kalau hutan terus berkurang, satwa tidak punya pilihan selain mendekat ke manusia,” ujar salah satu warga yang mengaku kini waswas setiap malam.
Data dan fakta di lapangan menunjukkan, konflik manusia dan satwa liar di wilayah Kerinci bukan kejadian baru, namun frekuensinya kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat dugaan adanya perubahan ekosistem yang signifikan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama aparat telah melakukan penanganan, namun pendekatan yang bersifat reaktif dinilai belum cukup menyelesaikan akar persoalan. Evakuasi atau pengusiran satwa hanya menjadi solusi sementara jika tekanan terhadap habitat terus terjadi.
Pengamat lingkungan menilai, tanpa pengendalian pembukaan lahan dan perlindungan kawasan hutan yang lebih ketat, konflik serupa akan terus berulang, bahkan berpotensi meningkat dengan risiko korban jiwa.
Di sisi lain, minimnya transparansi terkait aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan penyangga hutan juga menjadi sorotan. Publik mulai mempertanyakan sejauh mana pengawasan terhadap izin usaha dan aktivitas yang berpotensi merusak habitat satwa liar.
Kini, warga Sanggaran Agung hidup dalam bayang-bayang ancaman yang tidak hanya datang dari beruang, tetapi juga dari kerusakan lingkungan yang perlahan mengubah keseimbangan alam.
BACA JUGA:Musim Kemarau Datang, TN Berbak Sembilang Masuk Zona Rawan Karhutla
Jika tidak ada langkah tegas untuk melindungi habitat, maka bukan tidak mungkin konflik antara manusia dan satwa liar akan menjadi “wajah baru” krisis lingkungan di Kerinci. (*)
KERINCI – Kemunculan beruang hingga masuk ke permukiman warga di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci, bukan sekadar insiden satwa liar
Read moreSUNGAI PENUH – Dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kembali menjadi perhatian setelah jajaran Satreskrim Polres Kerinci men
Read moreMUARASABAK– Memasuki musim kemarau, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembi
Read moreSAROLANGUN – Menyusul banyaknya keluhan masyarakat terkait aktivitas angkutan batu bara di luar jam operasional, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabu
Read moreJAMBI-Polda Jambi mempertegas komitmennya memberantas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang merusak lingkungan, khususnya Daerah Aliran Sungai (DAS
Read moreMUARO JAMBI – Para pemilik bengkel sepeda motor di Muaro Jambi menghadapi tekanan finansial akibat harga oli dan ban yang tetap tinggi sejak Apr
Read more