Harga TBS Naik Tinggi, Petani Tanjabtim Tetap Mengeluh karena Buah Trek

Ilustrasi foto
Ilustrasi foto

MUARASABAK – Lonjakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga menyentuh kisaran Rp3.050 per kilogram belum mampu membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Penyebabnya, produksi buah justru sedang memasuki masa trek yang mengakibatkan hasil panen merosot tajam selama sekitar tiga bulan terakhir.

Fenomena tersebut dirasakan hampir seluruh petani sawit di Kecamatan Geragai. Meski harga jual berada di level yang cukup tinggi, berkurangnya volume panen membuat pendapatan petani tetap mengalami penurunan.

BACA JUGA:Harga Pinang di Tanjabtim Anjlok, Petani Terjepit Pembayaran Toke Tersendat

Pakde Pon, petani sawit asal Desa Pandan Jaya, mengaku hasil panen kebun miliknya seluas sekitar dua hektare turun drastis dibanding kondisi normal. Jika biasanya mampu menghasilkan sekitar tiga ton TBS dalam sekali panen, kini produksi hanya berkisar satu ton.

"Harga memang sedang bagus, rata-rata sudah Rp3.050 per kilogram. Tapi buahnya lagi trek sekitar tiga bulan terakhir. Biasanya dari kebun dua hektare bisa panen tiga ton, sekarang paling sekitar satu ton, jadi penghasilan tetap turun," katanya.

Menurutnya, kenaikan harga belum mampu menutup hilangnya pendapatan akibat anjloknya produksi. Berkurangnya jumlah buah yang dipanen membuat nilai penjualan ikut menyusut meskipun harga di tingkat petani terus menguat.

Kondisi serupa juga dialami Paidi, petani sawit lainnya di Kecamatan Geragai. Ia menyebut masa trek terjadi hampir di seluruh kebun sawit milik petani sehingga produksi turun secara bersamaan.

"Hampir semua petani merasakan hal yang sama. Harga memang tinggi, tetapi buah sedang trek sehingga hasil panen sedikit dan pendapatan tetap berkurang," ujarnya.

BACA JUGA:Update Harga Logam Mulia: Emas Antam Stabil, Buyback Turun

Para petani berharap produksi sawit segera kembali normal sehingga kenaikan harga TBS dapat benar-benar meningkatkan pendapatan mereka. Selama masa trek masih berlangsung, tingginya harga dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi petani sawit. (*)




Berita Terkait

Jambi Siap Gunakan Biodiesel B50, Masyarakat Diimbau Tak Khawatir Karena Aman untuk Kendaraan

JAMBI – Provinsi Jambi menyatakan kesiapan menerapkan penggunaan biodiesel B50 sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Masyarakat diimbau tidak kh

Read more

Harga TBS Naik Tinggi, Petani Tanjabtim Tetap Mengeluh karena Buah Trek

MUARASABAK – Lonjakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga menyentuh kisaran Rp3.050 per kilogram belum mampu membawa angin segar b

Read more

XL7 Tahun 2026, Tampil Lebih Berkarakter

JAMBI - PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali menghadirkan penyegaran pada salah satu produk andalannya di segmen SUV tiga baris, yakni Suzuki XL7.

Read more

Update Harga Logam Mulia: Emas Antam Stabil, Buyback Turun

JAKARTA-Harga emas Antam pada Kamis pagi (09.00 WIB) tercatat stabil di angka Rp2.655.000 per gram, menurut laman resmi Logam Mulia. Sementara itu, ha

Read more

Yamaha Rayakan 10 Tahun AEROX, Gelar Festival Komunitas Urban-Style

  JAKARTA – Yamaha merayakan satu dekade kehadiran AEROX, Sport Scooter MAXi yang pertama kali hadir di Indonesia pada 2016, dengan serang

Read more

Likuiditas Perekonomian Mei 2026 Tumbuh Lebih Tinggi, Capai Rp10.415,9 Triliun

  JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh lebih tinggi diband

Read more