Para petani kelapa saat menurunkan kelapa dri tongkang

Harga Kelapa Anjlok, Petani Tanjabtim Terancam Tinggalkan Kebun

Posted on 2026-07-21 13:18:23 dibaca 104 kali

MUARASABAK – Senyum petani kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) kembali berubah menjadi kekhawatiran. Setelah sempat berharap harga membaik, petani kini harus menerima kenyataan pahit karena harga jual kelapa kembali mengalami penurunan.

Dalam sepekan terakhir, harga kelapa dalam di tingkat petani turun dari kisaran Rp2.500 menjadi sekitar Rp2.000 per kilogram. Bahkan, di sejumlah wilayah sentra produksi, harga jual disebut berada di bawah angka tersebut.

BACA JUGA:Harga Pangan di Muaro Jambi Melonjak, Cabai Tembus Rp70 Ribu Per Kilogram

Penurunan harga terjadi saat petani mulai memasuki masa panen. Kondisi ini membuat pendapatan petani semakin tertekan, sementara biaya pemeliharaan kebun, kebutuhan pupuk, hingga kebutuhan rumah tangga terus mengalami peningkatan.

Bagi petani kecil, turunnya harga kelapa bukan sekadar berkurangnya keuntungan, tetapi ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Jika harga terus bertahan rendah, sebagian petani diperkirakan mulai meninggalkan kebun kelapa dan mencari pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dampak anjloknya harga juga dirasakan para pengepul. Acik, salah seorang pengepul kelapa di Kecamatan Muara Sabak Timur, mengatakan harga beli di tingkat petani sangat bergantung pada harga yang ditetapkan oleh toke besar.

Menurutnya, ketika harga dari toke besar berada di angka Rp2.500 per kilogram, pengepul hanya mampu membeli kelapa petani sekitar Rp2.000 hingga Rp2.100 per kilogram. Besaran harga tersebut disesuaikan dengan jarak angkut dan biaya operasional.

"Kami tetap menerima kelapa dari petani yang sudah menjadi langganan. Tidak mungkin kami menolak, tetapi harga memang mengikuti harga dari toke besar," ujarnya.

Acik menjelaskan, selisih harga yang diperoleh pengepul harus digunakan untuk menutup berbagai biaya, mulai dari tenaga kerja, transportasi, hingga operasional gudang. Akibatnya, saat harga turun, margin keuntungan pengepul ikut semakin kecil.

Tidak hanya persoalan harga, pengepul juga menghadapi masalah penumpukan stok. Kelapa yang terlalu lama tersimpan di gudang berisiko mengalami penurunan kualitas bahkan kerusakan.

"Kalau gudang penuh, kelapa harus segera dijual atau diolah. Kalau terlalu lama disimpan, kualitasnya akan turun dan bisa rusak," katanya.

Sementara itu, petani kelapa Warno mengaku penurunan harga membuat hasil panen semakin sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian petani terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar kebun.

"Kadang kami kerja serabutan, yang penting masih bisa mencari nafkah untuk keluarga," ungkapnya.

Warno berharap pemerintah tidak hanya memantau kondisi harga, tetapi juga menghadirkan solusi nyata agar komoditas kelapa kembali memiliki nilai ekonomi yang layak bagi petani.

BACA JUGA:Harga TBS Naik Tinggi, Petani Tanjabtim Tetap Mengeluh karena Buah Trek

Menurutnya, harga yang stabil akan menjadi dorongan bagi petani untuk tetap merawat kebun dan mempertahankan sektor kelapa sebagai sumber penghidupan utama.

"Harapan kami pemerintah bisa membantu agar harga kelapa kembali membaik. Kalau harga stabil, petani pasti lebih semangat mengelola kebunnya," tutupnya. (*)

Copyright 2026 Jambitrends.com

Alamat: Kota Jambi

Telpon:

E-Mail: admin@jambitrends.com, kontak : 0823xxxxxxxx