Jangan Jadikan Media Sosial Tempat Meluapkan Marah, Psikolog Ungkap Dampak Negatifnya
JAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital j
Read more
JAKARTA — Ledakan emosi di media sosial bisa berujung pada persoalan yang lebih besar. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengunggah atau membalas sesuatu ketika sedang marah.
Menurut Ratih, kebiasaan sederhana dengan memberi jeda sebelum menekan tombol unggah dapat membantu seseorang mengendalikan respons emosionalnya. Prinsip pause before posting dinilai penting, terutama ketika kemarahan sedang memuncak.
"Biasakan memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu. Prinsip sederhana seperti 'pause before posting' sangat membantu. Jika sedang marah, sebaiknya jangan langsung menulis atau mengunggah apa pun," kata Ratih sebagaimana dikutip dari ANTARA di Jakarta.
BACA JUGA:Tertipu Janji Pekerjaan di Medsos, 48 Orang Telantar Dipulangkan BPTD Jambi ke Daerah Asal
Pernyataan tersebut disampaikan Ratih menyusul peristiwa yang ramai diperbincangkan di media sosial. Seorang warganet yang kini telah meninggal sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya belum memperoleh kamar rumah sakit meski telah menunggu hingga delapan jam. Unggahan itu kemudian mendapat sejumlah komentar bernada perundungan dari warganet yang disebut teridentifikasi sebagai tenaga kesehatan.
Ratih mengatakan, kemampuan mengenali perubahan emosi menjadi langkah awal untuk mencegah seseorang bereaksi secara impulsif di ruang digital. Tanda-tandanya, antara lain tubuh mulai tegang, pikiran dipenuhi kemarahan, hingga muncul dorongan kuat untuk segera membalas komentar.
Dalam kondisi tersebut, ia menyarankan agar seseorang tidak langsung merespons. Jeda beberapa menit hingga beberapa jam dapat digunakan untuk menenangkan diri sebelum kembali membuka media sosial dan menentukan respons yang tepat.
Pengendalian emosi juga tidak terlepas dari kondisi fisik dan tekanan sehari-hari. Ratih menyarankan masyarakat menjaga kualitas tidur, mengelola beban pekerjaan, serta mengurangi paparan media sosial ketika tubuh dan pikiran sedang sangat lelah.
Selain itu, stres perlu disalurkan melalui cara yang sehat. Langkah tersebut penting untuk mencegah tekanan emosional berubah menjadi tindakan spontan yang justru menimbulkan masalah baru di ruang digital.
"Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi, media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab," ujar Ratih.
BACA JUGA:Wafatnya dr Icha Viral di Media Sosial Diduga Korban Intmidasi, Ini Tanggapan Kemenkes
Ia menegaskan bahwa setiap unggahan dapat menggambarkan karakter, nilai, sekaligus integritas penggunanya. Karena itu, kebebasan berekspresi di media sosial tetap perlu disertai kesadaran mengenai dampak dari setiap kata yang ditulis dan dipublikasikan.
Ratih pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan bertindak gegabah. Menunda unggahan ketika emosi sedang tinggi atau tubuh dalam kondisi kelelahan dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah emosi sesaat berkembang menjadi persoalan yang lebih serius di kemudian hari. (*)
JAKARTA — Meluapkan kemarahan di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa lebih lega. Sebaliknya, tindakan impulsif di ruang digital j
Read moreJAKARTA — Ledakan emosi di media sosial bisa berujung pada persoalan yang lebih besar. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibra
Read moreJAKARTA– Banyak anak korban kekerasan memilih diam bukan karena tidak ingin ditolong, melainkan karena merasa tidak memiliki tempat yang aman un
Read moreJAKARTA-Gangguan saluran cerna masih menjadi persoalan kesehatan yang kerap dialami anak-anak di Indonesia. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi s
Read moreJAKARTA-Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Di tengah tingginya angka g
Read moreJAKARTA– Gempuran teknologi digital tidak boleh membuat permainan tradisional hilang dari kehidupan anak-anak Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadl
Read more