Petugas lakukan Fogging cegah di DBD di Sungai Penuh.
SUNGAI PENUH – Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menghantui Kota Sungai Penuh. Hingga pertengahan Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sedikitnya 88 kasus DBD, menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan tersebut menjadi peringatan bahwa penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti masih menjadi persoalan serius, terutama di tengah tingginya intensitas hujan yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
BACA JUGA:Cegah Penyebaran Penyakit Hewan, Karantina Jambi Perketat Pengawasan Ayam Bangkok dari Luar Daerah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sungai Penuh, Yefrizal, mengatakan curah hujan yang hampir setiap hari turun menciptakan banyak genangan air. Kondisi itu menjadi tempat ideal bagi nyamuk penyebab DBD untuk berkembang biak sehingga risiko penularan ikut meningkat.
"Curah hujan yang tinggi membuat banyak tempat tergenang air sehingga populasi nyamuk berkembang lebih cepat. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kasus DBD," ujarnya.
Dinkes menjelaskan, angka 88 kasus merupakan akumulasi laporan dari seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Sungai Penuh hingga pertengahan Juli 2026. Data tersebut juga mencakup pasien asal Kabupaten Kerinci yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan di Kota Sungai Penuh.
Merespons kenaikan kasus tersebut, Dinas Kesehatan memperluas pelaksanaan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di berbagai wilayah. Langkah ini diarahkan untuk menekan populasi nyamuk sekaligus memutus rantai penularan DBD sebelum jumlah penderita terus bertambah.
Selain upaya pemerintah, partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian penyakit. Warga diminta konsisten menerapkan gerakan 3M Plus dengan menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
"Peran masyarakat sangat penting. Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan secara rutin dapat mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk," kata Yefrizal.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal DBD. Warga yang mengalami demam tinggi selama beberapa hari, terlebih jika disertai nyeri otot, muncul bintik merah di kulit, atau keluhan lain yang mengarah pada DBD, diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan agar mendapat penanganan sedini mungkin.
BACA JUGA:Dari Gratis ke BLUD, RSUD Kerinci Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Sistem Berbayar
Dengan musim hujan yang masih berlangsung, Dinas Kesehatan berharap upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi kunci untuk menekan laju penyebaran DBD di Kota Sungai Penuh.
Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih bergaya headline media nasional, lebih investigatif, atau lebih lugas ala koran harian. (*)